05 Maret 2014

Bercerita Dalam Tulisan

 
menulis adalah karya budaya manusia, baik itu karya sastra atau karya ilmiah. apalagi sebagai akademisi yang objeknya karya tulis (khusus jurusan jurnalistik), menulis adalah makanan sehari-hari, dalam ilmu teater pun karya tulis merupakan satu kesatuan dalam pementasan, yang terdapat dalam naskah drama.
penulasan naskah drama memang sesuatu yang kompleks karna isinya merupakan refleksi dari kehidupan manusia. tetapi, dari situ pula kita bisa tahu dari mana dan bagai mana menulis dan terus berlatih menulis. ada hal dasar yang perlu di perhatikan dalam menulis naskah drama. pertama adalah tema, kedua adalah tokoh yang biasanya terdiri dari tokoh-tokoh karakter baik dan buruk, karena kehidupan manusia tidak lepas dari hubungan sebab-akibat. Dari hal-hal dasar tersebut lahir kemudian jalan cerita, latar tempat, waktu dan hal pendukung lainnya.
membuat karya tulis dapat juga diaplikasikan dengan cara mengambil satu tema besar yang ingin kita jadikan permasalahan, ditambah pendapat para narasumber yang pro dan kontra pada permasalahn tersebut, lalu disusun menjadi sebuah kronologi peristiwa didukung penjabaran fakta.
dilihat dari sudut pandang sastra naskah drama, hukum apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana atau lebih terkenal dengan istilah  What, Who, Where, When, Why, How (5W+1H)
mengalami perkembangan . antara lain what menjadi alur, who menjadi karakter, where menjadi latar, whwn menjadi kronologi adegan, why menjadi motif, dan how menjadi narsi.
naskah drama pada dasarnya sama dengan karya tulis ilmiah atau laporan jurnalistik, "curhatan sehari-hari" buku harian, atau bahkan coretan rumus matematika.
goreskan pena dan berceritalah. . .

01 Maret 2014

Forum Pemilih Pemula Dalam Pemilu 2014


1.      Sosialisasi

















Kegiatan sosialisasi ini berlangsung di Kampus SMAN 3 Lau Maros, dalam acara pembukaan PORAKES (Porseni Antar Kelas) yang di adakan oleh OSIS SMAN 3 Lau Maros. PORAKES ini bertemakan SEHAT  DENGAN OLAHRAGA, BERKREASI DENGAN SENI, BERIMTAQ DENGAN AGAMA ”  , di mana dalam kegiatan ini di dukung oleh beberapa media, diantaranya : Fajar TV, Maros INFO, Marfografi, Tribun Timur, Tabloit Target, Dan KLJI Maros, hal ini di hadiri oleh banyak pengunjung, , , yang menggelitik untuk sosialisasi pemilih pemula tentang pentingnya aspirasi rakyat bagi legalitas penyelenggara pemerintahan melalui pemilu dan dilanjutkan dengan simulasi pemungutan suara oleh perwakilan peserta. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pemilih pemula dapat memberikan suaranya dengan cerdas karena satu pilihan menentukan nasib bangsa di masa depan.

2.      Pemuda dan suksesnya pemilu 2014

Generasi muda, terutama pemilih pemula menjadi bagian penting untuk kemajuan dan kesejahteraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena mereka adalah pelaku demokrasi di masa yang akan datang.
Karakter generasi muda dalam pemilu sebagai pemilih pemula diantaranya yaitu karakter politiknya yang masih polos, dinilai relatif belum terpola dan merupakan pemilih aktif. Mereka cenderung berpikir terbuka (open minded), meskipun di sisi lain tetap berkeinginan kritis, kosmopolitan, dan mengikuti sejumlah perkembangan politik nasional. Sehingga menarik untuk dijadikan ajang perebutan.
Terkait hal tersebut Pemilu 2014 menjadi salah satu tumpuan untuk membuktikan bahwa generasi muda memiliki kekuatan strategis di dalamnya. Pemilih pemula pada Pemilu 2014 diperkirakan 30,2 juta orang. Jadi, ada sekitar 17 persen di antara sekitar 175 juta pemilih yang akan memilih untuk pertama kali pada tahun 2014. Jumlah ini sangat signifikan dari segi politik pemungutan suara (electoral politics). Bila pemilih pemula digabung dengan pemilih muda lain yang berusia di bawah 30 tahun, jumlahnya pada 2014 menjadi dua kali lipat, sekitar 34 persen.
Pemilu 2014 nantinya akan menghadapi beberapa tantangan diantaranya adalah ketidakpercayaan publik kepada parpol, melemahnya kedekatan pemilih dengan parpol, tingginya pemilih yang belum menentukan pilihan hingga turunnya partisipasi pemilih.
Generasi muda sebagai pemilih pemula adalah pemilih masa depan yang harus digarap menjadi pemilih yang berstruktur positif yang artinya adalah pemilih yang diberikan pendidikan menjadi sosok pemilih yang mengerti “hak dan kewajiban” demokratis. Sehingga jika dia harus berpartisipasi, maka sang pemilih pemula, memahami partisipasi politiknya bukanlah partisipasi kosong, habis mencoblos selesai sudah.
Dalam konteks inilah terletak urgensi pendidikan politik, bukan pengerahan atau mobilisasi politik. Pendidikan politik yang konstruktif dan benar menjadi sesuatu yang mutlak untuk pemilih pemula. Mengapa demikian, karena di sinilah  salah satu proses  pembentukan karakter politik seorang anak bangsa ditentukan.
Maka, memahami sikap politik kaum muda dan ke arah mana angin politik mereka bertiup menjadi sangat penting, baik untuk praktis politik maupun untuk pendidikan dan pembangunan politik di masa akan datang. Tentu semua berharap agar pemilih muda memiliki sikap politik yang tegas, yaitu menolak politik pencitraan, menolak figur yang popular secara instan dan menolak praktik politik uang.

3.      Potensi Besar & Sosialisasi Program yang belum merata

Indonesia memasuki tahun politik pada 2014. Disebut tahun politik antara lain karena Indonesia akan melaksanakan sejumlah kegiatan politik yang melibatkan setidaknya rakyat berusia 17 tahun ke atas dan berujung pada pemilihan anggota legislatif (anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah/Senator dan DPRD) dan kabinet pemerintahan baru (Presiden, Wakil Presiden dan para menteri).
Ya, di tahun 2014, Indonesia menggelar pesta demokrasi. Pada bulan April 2014 mendatang, masyarakat Indonesia akan secara langsung memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD untuk periode jabatan 2014 – 2018. Sedangkan di bulan Juli 2014, masyarakat Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan menggantikan Presiden dan Wakil Presiden RI saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono.
Dari data yang dirilis KPU, jumlah total pemilih yang telah terdaftar untuk pemilu tahun 2014 adalah sejumlah 186.612.255 orang penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut 20-30%nya adalah Pemilih Pemula. Dalam pendidikan politik, kelompok muda yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu disebut dengan Pemilih Pemula. Pemilih Pemula ini terdiri dari mahasiswa dan siswa SMA yang akan menggunakan hak pilihnya pertama kali di tahun 2014 nanti.
Pada Pemilu 2004, jumlah Pemilih Pemula sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Pada Pemilu 2009 sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih. Data BPS 2010: Penduduk usia 15-19 tahun: 20.871.086 orang, usia 20-24 tahun: 19.878.417 orang. Dengan demikian, jumlah pemilih muda sebanyak 40.749.503 orang. Dalam pemilu, jumlah itu sangat besar dan bisa menentukan kemenangan partai politik atau kandidat tertentu yang berkompetisi dalam pemilihan umum.
Bagi mereka yang berusia 17-21 tahun, memilih dalam Pemilu merupakan pengalaman pertama kali. Ada juga kalangan yang menyebutkan bahwa TNI/Polri yang baru pensiun dan kembali menjadi warga sipil yang memiliki hak memilih, juga dikategorikan sebagai Pemilih Pemula. Ketika menjadi anggota TNI/Polri aktif, mereka tidak punya hak pilih dalam pemilu. Setelah memasuki usia pensiun, barulah mereka memiliki hak memilih dan dipilih dalam pemilu.
Pada dasarnya setiap warga negara memiliki hak politik untuk memilih dalam pemilu. Akan tetapi, hak itu harus diatur dengan cara menetapkan syarat tertentu agar terjadi keteraturan dalam proses politik. Syarat tersebut antara lain merupakan WNI yang berusia minimal 17 tahun, sudah/pernah menikah, tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya, terdaftar sebagai pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), bukan anggota TNI/Polri aktif, tidak sedang dicabut hak pilihnya, khusus untuk Pemilukada, calon pemilih harus berdomisili sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan di daerah yang bersangkutan.
Di antara syarat tersebut, yang paling penting mendapat perhatian adalah harus terdaftar sebagai pemilih. Untuk terdaftar sebagai pemilih, Pemilih Pemula harus mempunyai KTP. Meskipun sudah memenuhi syarat-syarat untuk menjadi pemilih namun tidak terdaftar sebagai pemilih, Pemilih Pemula tidak bisa ikut memilih. Jika tidak terdaftar sebagai pemilih, Pemilih Pemula harus melapor pada Petugas Pemungutan Suara memalui RT atau RW tempat tinggal pemilih.
Karakteristik Berbeda
Secara psikologis, Pemilih Pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang- orang tua pada umumnya. Pemilih Pemula cenderung kritis, mandiri, independen, anti status quo atau tidak puas dengan kemapanan, pro perubahan dan sebagainya. Karakteristrik itu cukup kondusif untuk membangun komunitas pemilih cerdas dalam pemilu yakni pemilih yang memiliki pertimbangan rasional dalam menentukan pilihannya. Misalnya karena integritas tokoh yang dicalonkan partai politik, track record-nya atau program kerja yang ditawarkan.
Karena belum punya pengalaman memilih dalam pemilu, Pemilih Pemula perlu mengetahui dan memahami berbagai hal yang terkait dengan pemilu. Misalnya untuk apa pemilu diselenggarakan, apa saja tahapan pemilu, siapa saja yang boleh ikut serta dalam pemilu, bagaimana tata cara menggunakan hak pilih dalam pemilu dan sebagainya. Pertanyaan itu penting diajukan agar Pemilih Pemula menjadi pemilih cerdas dalam menentukan pilihan politiknya di setiap pemilu.
Dalam penghitungan suara pemilu, satu suara saja sangat berarti karena bisa mempengaruhi kemenangan politik. Apalagi suara yang berjumlah jutaan sebagaimana halnya yang dimiliki kalangan Pemilih Pemula. Itu sebabnya, dalam setiap pemilu, Pemilih Pemula menjadi “rebutan” berbagai kekuatan politik. Menjelang pemilu, partai politik atau peserta pemilu lainnya, biasanya membuat iklan atau propaganda politik yang menarik para Pemilih Pemula. Mereka juga membentuk komunitas kalangan muda dengan aneka kegiatan yang menarik anak-anak muda, khususnya Pemilih Pemula. Tujuannya agar para Pemilih Pemula tertarik dengan partai atau kandidat tersebut dan memberikan suaranya dalam pemilu untuk mereka sehingga mereka dapat mendulang suara yang signifikan dan meraih kemenangan.
Selain memiliki banyak kelebihan, Pemilih Pemula juga memiliki kekurangan, yakni belum memiliki pengalaman memilih dalam pemilu. Pemilu mendatang merupakan pengalaman pertama bagi pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya. Karena belum punya pengalaman memilih dalam pemilu, pada umumnya banyak dari kalangan mereka yang belum mengetahui berbagai hal yang terkait dengan pemilihan umum. Mereka juga tidak tahu bahwa suaranya sangat berarti bagi proses politik di negaranya. Bahkan tidak jarang mereka enggan berpartisipasi dalam pemilu dan memilih ikut-ikutan tidak mau menggunakan hak pilihnya alias golongan putih (golput).
Temuan Lembaga Peduli Remaja (LPR) Kriya Mandiri Solo yang melakukan jajak pendapat pada Pemilih Pemula di Kota Solo tanggal 19 Februari 2009, menyatakan bahwa potensi golput Pemilih Pemula di Solo cukup tinggi. Dari 340 responden yang dipilih secara acak dari sepuluh SMA dan SMK di Solo, hanya 21,49% saja yang menyatakan siap memberikan suara. Sisanya 60,51% menyatakan belum yakin apakah akan memilih atau tidak, artinya berpotensi golput, dan 18% dengan tegas menyatakan tidak memilih.
Hasil survei juga menunjukkan 67,55% Pemilih Pemula belum mengetahui secara persis tahapan dan sistem pemilu. Tidak hanya itu, sebanyak 76,40% bahkan mengaku tidak tahu jumlah kontestan partai politik. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan pemilih pemula untuk berpartisipasi pada Pemilu 2009 lalu masih sangat rendah. Sikap ini terlihat dari 91,01% responden menyatakan tidak bersedia turut serta dalam kegiatan kampanye.
Oleh karena itu, penting bagi Pemilih Pemula mendapatkan pendidikan politik yang secara spesifik ditujukan bagi Pemilih Pemula. Dalam pendidikan Pemilih Pemula akan disampaikan arti penting suara Pemilih Pemula dalam pemilu, berbagai hal yang terkait dengan pemilu, seperti fungsi pemilu, sistem pemilu, tahapan pemilu, peserta pemilu, lembaga penyelenggara pemilu dan sebagainya. Tujuannya agar Pemilih Pemula memahami apa itu pemilu, mengapa perlu ikut pemilu dan bagaimana tatacara menggunakan hak pilih dalam pemilu. Setelah Pemilih Pemula memahami berbagai persoalan pemilu diharapkan Pemilih Pemula menjadi pemilih yang cerdas yakni pemilih yang sadar menggunakan hak pilihnya dan dapat memilih pemimpin yang berkualitas demi perbaikan masa depan bangsa dan negara.
4.      Menjadi Pemilih Pemula yang Kritis
Di tengah munculnya skeptisisme orang muda terhadap fenomena politik kontemporer Indonesia, harapan pun mengiringi eksistensi mereka terhadap suksesi kepemimpinan politik. Suara kelompok ini amat strategis dari aspek kuantitas maupun kualitas vote di Pileg dan Pilpres 2014. Maka kesadaran kritis pemilih pemula adalah vitamin yang empuk bagi terwujudnya pencarian kualitas kepemimpinan politik. Namun, disitulah letak soalnya. Bagaimana mendorong nalar dan sikap kritis mereka agar turut menentukan wajah kepemimpinan politik di 2014?
Ada banyak analisis politik yang menyatakan pemilih pemula cenderung apatis terhadap politik. Terpaan informasi yang amat banyak dan kemuakan mereka terhadap praktek politik yang korup, busuk dan nir-nilai membuat apatisme ini kian menjadi pembenaran. Tapi benarkan apatisme yang patut disandingkan? Atau jangan-jangan kesadaran nalar kritis tak pernah diulek instutusi demokrasi yang mengemban tanggung jawab pendidikan politik warga? Aspek inilah yang seharusnya menjadi perdebatan dan diskursus public.
Apatis Versus Partisipasi
Tantangan besar pengembangan pemikiran kritis terhadap pemilih pemula adalah mengubah sikap apatis menjadi partisipasi. Perasaan enggan dalam mengeluarkan pendapat konstruktif menjadi indikator sikap apatis. Sikap apatis bisa diproduksi dari beberapa kenyataan. Pertama, realitas pendidikan yang makin mahal membuat tidak banyak mereka yang dapat mencicipi manisnya, ranumnya dan geliatnya dunia kampus. Di sisi lain, kelompok ini juga diterpa virus hidup hedonis personal dalam rupa: memilih fashion mahal, HP canggih, dugem, dan sebagainya. Di titik ini, pemilih pemula diharapkan tidak melulu berkubang pada rutinitas hedonistik. Namun, menujukan sikap partisipasi dalam masyarakat. Partisipasi bertujuan membangun ketahanan masyarakat, sekaligus ikut menentukan hitam-putih negeri ini
Pendidikan Kritis
Pendidikan kritis mendorong pemuda ikut terlibat aktif dalam pilihan-pilhan yang terjadi di masyarakat. Keaktifan itu ditunjukkan dalam berbagai sumbangsih pemikiran dan tindakan. Keaktifan pemilih pemula harus dilengkapi dengan kemapuan menganalisis fenomena sosial. Analisa kasus melibatkan pemahaman yang menyeluruh. Analisa semacam ini disebut dengan analisisi sosial. Analisis sosial merupakan usaha untuk memperoleh gambaran utuh mengenai sebuah situasi sosial. Pengenalan itu dilengkapi dengan menggali lebih dalam hubungan-hubungan historis dan strukturalnya.
Dalam konteks menghadapi pemilu legislative dan pilpres 2014, maka analisis sosial dapat dikemas dengan mengajukan pertanyaan kritis yaitu (1) Seperti apa kualitas Caleg dan Capres yang layak dipilih? (2) Mengapa kita patut terlibat dalam pemilu 2014? (3) Bagaimana cara Caleg dan Capres merumuskan Indonesia yg lebih adil dan sejahtera? (4) Bagaimana Caleg dan Capres merangkai masa depan Indonesia? (5) Apa yang pernah Caleg dan Capres perbuat bagi publik? (6) Sejauh mana posisi mereka terhadap pluralism dan kesadaran planeter?
Pendek kata, analisis ini bisa mengajak pemilih pemula masuk ke realitas secara kritis. Harapannya, Mereka dapat mengajak masyarakat mengalami pencerahan berpikir dan keterlibatan praksis. Paradigma kritis menjadi poin penting dalam kemasan pendidikan politik. Paradigma kritis dapat melatih pemilih pemula untuk mampu mengidentifikasi politisi busuk dan korup, sembari memilih pemimpin yang baik dan amanah.
Pendidikan kritis itu akan melahirkan komunitas pemilih kritis. Jika di setiap desa, kampung, kecamatan dan kabupaten terbentuk komunitas-komunitas pemilih pemula yang kritis maka akan timbul rasa kesatuan untuk membangun Indonesia baru yang beradab dan berkeadilan. Semangat inilah yang perlu digarap oleh institusi-institusi demokrasi: Pers, LSM, Perguran Tinggi, Lembaga Keagamaan/adat, dan Parpol. Jika asa ini menyertai, maka harapan kita menjadikan pemilih pemula sebagai actor, motor, dan stimulator bagi terpilihnya pemimpin amanah bukanlah sebuah utopiah.
Mari memilih dengan Cerdas !!!
5.      Pohon Dan Rumah Jadi Sasaran

Menjelang Pemilu 2014, banyak Partai Politik (Parpol), caleg, Kader dan simpatisan memanfaatkan ketokohan dan membuat statement di media massa untuk menaikan simpatik dari masyarakat agar lebih mendukung caleg maupun parpolnya. Bukan hanya itu di sepanjang jalan, rumah-rumah dan pepohonan menjadi sasaran utama bagi caleg. Kebangkitan dan atau perubahan yang substansial adalah perubahan yang tidak dinodai oleh pragmatisme politik dan politik transaksional, tapi perubahan yang bersumber dari semangat dan cita-cita luhur bangsa serta dilandasi nilai-nilai perjuangan, keikhlasan dan pengabdian.

Inspirasi perubahan selalu berawal dari kegelisahan-kegelisahan akan kondisi negara yang tidak kunjung membawa kemakmuran, karena itu para aktivis mahasiswa dan generasi muda pemilih pemula yang masih mempunyai idealisme dan cita-cita besar tentang Indonesia tentu merasa gelisah dengan kondisi bangsa saat ini. Karena itu Pemilu 2014 adalah momentum yang tepat bagi perubahan bangsa.

Untuk itu, menyongsong kebangkitan dan perubahan yang lebih fundamental di era transisi demokrasi dan transisi kepemimpinan nasional harus siap mengusung, mengisi, dan mengawal kebangkitan serta perubahan menuju cita-cita besar Indonesia yang lebih baik dan beradab. Pemilih pemula adalah mereka yang berusia 17 tahun pada hari pencoblosan atau yang sudah menikah dan tercatat dalam daftar pemilih tetap. Pemilih pemula dalam setiap even pemilu nasional ataupun pemilukada selalu didominasi kalangan pelajar/siswa dan jumlah mereka relatif besar. Jumlah mereka yang besar membuat mereka sering menjadi rebutan partai politik maupun para politisi untuk mendongkrak perolehan suara.

Diperkirakan dalam setiap pemilu, jumlah pemilih pemula sekitar 20-30% dari keseluruhan jumlah pemilih dalam pemilu dan bisa menentukan kemenangan partai politik atau kandidat tertentu yang berkompetisi. Para pemilih pemula biasanya antusias untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) karena untuk pertama kali menggunakan hak pilih mereka.

Jiwa muda dan coba-coba masih mewarnai alur berpikir para pemilih pemula, sebagian besar dari mereka hanya melihat momen pemilu sebagai ajang partisipasi dengan memberikan hak suara mereka kepada partai dan tokoh yang mereka sukai/gandrungi. Antusiasme mereka untuk datang ke TPS tidak bisa langsung diterjemahkan bahwa kesadaran politik mereka sudah tinggi. Kebanyakan pemilih pemula baru sebatas partisipasi parokial semata. Mereka masih membutuhkan pendewasaan politik sehingga mampu berpartisipasi aktif dan dapat berkontribusi positif dalam upaya menjaga dan menyukseskan demokratisasi. Pemilih pemula sering kali lebih cendrung memilih partai-partai besar dan mapan.

Jika kita tarik benang merah dari kerangka berpikir di atas setidaknya ada kecendrungan partisipasi pemilih pemula menuju partisipasi mobilisasi. Jumlah mereka yang besar dan emosi yang belum stabil membuat mereka rawan menjadi rebutan partai politik dan figur-figur yang bertarung dalam pemilu maupun pemilukada. Mereka kemudian hanya menjadi lumbung suara tanpa mendapatkan edukasi dan penyadaran politik dari parpol.

Potensi besar ini harus bisa dioptimalkan agar partisipasi mereka tak hanya sebatas partisipasi parokial tanpa kontribusi untuk proses demokratisasi. Partai politik seharusnya tidak hanya berpikir bagaimana mendulang perolehan suara, lebih dari itu parpol harus memikirkan pula bagaimana menumbuhkan kesadaran politik bagi anak muda yang nanti suatu saat juga akan menjadi kader-kader mereka.

24 Februari 2014

Ekspresi pemberontakan dalam Dunia Musik


            Sering kita melihat dandanan jeans ketat robek, kaos sempit, atau fashion kulit dan rantai-rantai, serta aksesoris paku ala punk dikenakan anak muda, lengkap dengan rajah tubuh dan tindikan tida hanya di telinga. Sikap slengean serasa rockstar. Meski ketika bersentuhan dengan realita, kehidupan bermasyarakat yang sarat dengan nilai dan norma dan kaum mayoritas, mereka di beri label negative. Tapi justru mereka semakin melawan dominasi, memberontak kamapanan. Menapaki jejaknya, subkultur lahir dari keberadaan kekuasaan dominan yang dianggap mempunyai kepentingan dan tidak manusiawi. Subkultur tersebut tetap ada sebagai oposisi kemapanan bahkan ada role model-nya.
            Kaum muda identik dengan proses pencarian jati diri mereka mengidentifikasikan diri demi eksistensi dan tujuan mereka. Music dan segala pernak-pernik seperti fashion dan ottitude-nya adalah salah satu medianya. Muik menjadi media komunikasi massa yang kuat dan berpengaruh (selain televise dan internet) untuk menyampaikan sesuatu bagi kaum muda, baik dari karya maupun attitude musisinya. Mereka yang kritis cenderung mempertanyakan hal-hal di sekiarnya, termasuk kesenjangan social, dominasi kapitalisme, hingga membuat mereka mencari pandangan yang sejalan dengan mereka. Musik dengan segala ideology didalamnya menjadi wadah yang tepat bagi eksplorasi kaum muda.
            Anak muda akan cenderung mengidentifikasi bahkan mengimitasikan karya music, baik secara mentah-mentah maupun kritis. Hal itu berpengaruh pada pandangan hidup, ideology, attitude, bahkan memacu kreativias kaum muda dalam berkarya. Tidak ada yang salah , jika memang itu alasan atau bahkan pemicu untuk berkarya dan menjadi kritis.
            Semua label negative bias dianggap hanya pesan kosong yang tidak mau menerima sesuatu yang baru, yang beda, yang berontak karna kritis. Sikap konvensional hanya menang karna memang mayoritas dengan standar yang sempit.


Sumber : KULTUR UNDERGROUN: yang pekak dan berteriak di bawah tanah, 
Taufik Adi Susilo, Jogjakarta : Garasi, 2009

Tanah Surga. . . Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu katanya/tapi kata kakekku hanya orang kaya yang minum susu/
tiada badai tiada topan yang kautemui/ kail dan jala cukup menghidupimu/
tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing/
ikan dan udang menghampiri dirimu. . . katanya/tapi kata kakekku 
"hush. . . ada udang di balik batu" /
 orang bilang tanah kita tanah surga. . .  katanya/
tapi kata dokter intel yang punya surga hanya pejabat-pejabat. . . 

23 Februari 2014

Dengar Kata Ujian NASIONAL, harus . . .!

1. Persiapan Awal yang Matang
Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
2. Tetap Tenang dan percaya diri
Yakinkan pada diri kamu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik. Karena percaya diri merupakan poin penting dari salah satu kesiapan dalam ujian nasional. Tanpa adanya kepercayaan diri terkadang otak kita bisa blank hilang konsentrasi. Caranya bisa dengan duduk yang tenang, santai, rileks.
3. Baca, Cermati lalu Pahami baru mengerjakan soal
Tips Menghadapi Ujian Nasional yang ini sangat penting, Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
4. Hati-hari dalam mengisi Lembar Jawaban Komputer (LJK)
Dalam mengisi Lembar Jawab Komputer (LJK) sebaiknya hati-hati, jangan sampai basah, terlipat dan selalu menjaga LJK dari minyak, jika hal ini terjadi yang ditakutkan adalah tidak mesin scanner tidak dapat mendeteksi jawaban anda. Tentunya hal ini sangat fatal.
5. Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
6. Awali dan Akhiri dengan berdoa
Sebelum kita mulai mengerjakan dan sesudah mengerjakan jangan lupa berdoa kepada Tuhan agar diberikan hasil yang baik. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Tuhan senantiasa akan melihat kesungguhan usaha kita. Tuhan pun akan melihat kesungguhan hambaNya untuk melakukan suatu usaha jika hambaNya mengiringi usahanya tersebut dengan berdoa.
Jika Anda berhasil lulus Ujian, Selamat! Jika tidak sesuai apa yang Anda harapkan, Ingat bahwa ini bukanlah akhir dari hidup Anda.  Jika ada kesempatan mengulang, tingkatkan usaha dan kemampuan Anda!

Mudah-mudahan tips menghadapi ujian nasional diatas bermanfaat. Semoga sukses…..


Penyakit Siswa Dalam Menghadapi ujian NASIONAL

KONDISI PSIKOLOGIS SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
(CARA MENGATASINYA)

Oleh,
Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons
Pada tanggal 16–19 April 2012 akan dilaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/MA, SMALB, SMK, tanggal 22-26 April 2012 untuk SMP/MTs, dan SMPLB, dan tanggal 7-9 Mei 2012 untuk SD/MI,dan SDLB. Untuk mempersiapkan menghadapi UN tersebut, siswa selain mempelajari materi pelajaran yang diujikan juga perlu mempersiapkan diri dari segi psikologis supaya dapat mengikuti UN dengan optimal.


Di sekolah siswa seharusnya sudah terbiasa dengan penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik (guru) dan sekolah. Hal ini karena diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 63 ayat (1) Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:


a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
b. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;dan
c. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester,ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik; bahan penyusunan laporan hasil belajar; dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran. Penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani,olahraga,dan kesehatan merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah dalam bentuk Ujian Nasional bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.Ujian nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan,dan akuntabel. Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a) pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (b) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c) penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Ujian Nasional merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan seperti diamanatkan Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 72 ayat (1) Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

  1.  
    1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
    2. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulai, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani,olah raga,dan kesehatan;
    3. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
    4. lulus Ujian Nasional.

Banyak siswa yang cerdas, pintar dalam berbagai mata pelajaran sukses dalam ujian nasional. Begitu pula siswa yang cerdas dan pintar dalam mata pelajaran merasa pisimis, mencari bocoran soal, membeli kunci jawaban, menerima kunci dari sms yang kurang pas. Sebagian siswa lagi tidak tahu, dan pasrah dalam kondisi tertekan, menurun daya ingatan, tidak terstruktur dan kusut ingatan pada meteri ujian, bayang-bayang pikiran menghantui kegagalan ujian, pikiran kacau, berkecamuk rasa malu dan takut tidak dapat menjawab soal ujian yang benar. Kondisi psikologis siswa seperti ini penting untuk mendapatkan pelayanan agar dapat sukses dalam Ujian Nasional.
Kondisi psikologis siswa bermacam-macam dalam menghadapi Ujian Nasional, hal ini disebabkan adanya dinamika psikis yang berbeda-beda dalam diri siswa. Siswa yang dinamika psikisnya baik tidak mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi ujian nasional. Sebaliknya siswa yang dinamika psikisnya tidak baik akan mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional.
Dinamika psikis adalah energi kejiwaan yang menggerakkan, yang penuh dinamika , yang akan membawa dan menuju sukses dalam menghadapi Ujian Nasional. Energi adalah kemampuan untuk bertindak. Energi merupakan ketetapan hati yang tidak tampak yang dimiliki oleh setiap orang untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hati mereka.Dalam diri siswa terdapat dua macam energi yaitu energi fisik dan energi psikis. Energi psikis jauh lebih penting dari energi fisik,karena dari alam bawah sadar yang dapat menimba banyak daya dan kekuatan disaat dibutuhkan. Formula untuk menghimpun yang dinamis,yaitu: (a) menentukan tujuan. Tiada sesuatu pun yang dengan sendirinya menjadi dinamis sebelum ditetapkan tujuan dengan jelas. (b) menjaga diri agar senantiasa dalam kondisi prima. (c) mengatur makanan yang bergizi, jangan melupakan vitamin. (d) mencari kesempatan agar dapat memberikan pelayanan kepada orang lain. Carilah emas yang tidak dapat lapuk. (e) ungkapkan rasa hormat dan penghargaan serta kebaikan kepada orang lain. (f) memperbaharui kekuatan dirinya setiap kali memperoleh keberhasilan.
Ditinjau dari segi energi, siswa yang kondisi psikologisnya mengalami kecemasan atau ketakutan, siswa tersebut sedang mengalami kehidupan keredupan energi psikis dirinya, ibarat lampu yang kehilangan pancaran sinarnya, padahal sinar itu mengandung makna bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, konselor melalui layanan konseling menfokuskan untuk mengaktifkan dan membangun energi psikis yang ada pada diri siswa untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi diri sendiri dan lingkungannya terkait dengan kesuksesan ujian nasional yang jujur dan akuntabel.
Siswa yang sedang mengalami kecemasan atau ketakutan adalah siswa yang sedang bermasalah dan sedang berada dalam keadaan tertekan, tidak berdaya. Dalam keadaan seperti ini siswa mudah terjajah oleh kekuatan-kekuatan yang merasuk ke dalam dirinya yang dapat semakin melemahkan dan menimbulkan berbagai kerusakan dirinya dan kegagalam dalam menghadapi ujian nasional. Siswa yang bermasalah adalah siswa terjajah. Potensi dan energi dirinya tidak berkembang atau tidak bersinar. Rasa aman siswa terganggu, kompetensi tidak bisa berfungsi, aspirasi terkungkung, semangat belajar layu, dan kesempatan yang terbuka baginya untuk sukses akan terbuang.
Konseling yang dilakukan oleh konselor akan membantu mengembangkan kekuatan pada diri siswa untuk mampu mendobrak dan keluar dari lingkaran setan serta memerdekaan dirinya dari rasa cemas dan takut menghadapi ujian nasional.Siswa harus mampu memproklamirkan kemerdekaan dirinya dari penjajahan kekuatan destruktif yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Dengan demikian konseling mendorong terjadinya pembebasan yang memungkinkan siswa mengaktifkan potensi dan energi psikis yang ada dalam dirinya.
Setelah proklamasi terjadi,maka konseling membawa siswa ke arah pembangunan diri bagi kemandiriannya dengan memanfaatkan sebesar-besarnya potensi dan energi psikis, baik yang ada pada diri siswa maupun di luar. Konseling merupakan proses sinergik untuk mengoptimalkan energi psikis pada diri siswa dalam rangka pengembangan dan pengatasan kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi ujian nasional. Energi psikis yang baik pada diri siswa akan menimbulkan dinamika psikis baik sehingga tidak mengalami kecemasan dalam menghadapi ujian nasional.
Siswa yang dinamika psikisnya baik, tidak mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional, dimungkinkan karena :
  1.  
    1. sudah menguasai materi pembelajaran yang akan di Uji Nasional-kan;
    2. penuh percaya diri, penuh rasa kemenangan, dan keberhasilan, serta siap menghadapi kenyataan;
    3. sugesti diri yang positif akan keberhasilan dalam menghadapi Ujian Nasional;
    4. memiliki kesiapan mental dan phisik dalam menghadapi Ujian Nasional;
    5. menganggap bahwa ujian adalah merupakan hal yang biasa dan harus dilalui dalam proses pembelajaran;
    6. menganggap bahwa lulus atau gagal adalah merupakan yang wajar dalam menghadapi Ujian Nasional;
    7. ingin membuktikan kemampuan yang dimiliki apa sudah bisa mencapai standar kompetensi lulusan secara nasional yang ditetapkan dalam Ujian Nasional.
Sedangkan siswa yang dinamika psikisnya tidak baik akan mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional,dimungkinkan karena:
  1.  
    1. tidak menguasai materi pembelajaran yang akan di Uji Nasional-kan;
    2. tidak percaya diri,dan tidak siap dan biasa menghadapi kenyataan;
    3. tidak memiliki kesiapan mental dan phisik dalam menghadapi Ujian Nasional;
    4. menganggap bahwa ujian (Ujian Nasional) adalah merupakan hal yang menakutkan;
    5. menganggap Ujian Nasional harus lulus dan jika tidak lulus adalah tabu karena disekolah setiap ujian pasti lulus;
    6. pembelajaran disekolah dianggap belum mencukupi untuk membekali dirinya dalam menghadapi Ujian Nasional;
    7. proses pembelajaran di sekolah tidak menerapkan sistem evaluasi/ujian yang obyektif, berkeadilan,dan akuntabel;
    8. hasil Ujian Nasional akan menentukan kelulusan pada akhir masa studi.
GEJALA PERILAKU KECEMASAN

Gejala perilaku siswa yang mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi ujian nasional, antara lain gejala phisik, gejala psikis, dan gejala sosial. Gejala phisik meliputi peningkatan detak jantung, perubahan pernafasan(nadi dan pernafasan meningkat), keluar keringa, gemetar, kepala pusing, mual, lemah, ngeri, sering buan air besar dan kencing, nafsu makan menurun, tekanan darah ujung jari terasa dingin, dan lelah. Gejala psikismeliputi perasaan akan adanya bahaya, kurang percaya diri, kurang tenaga/tidak berdaya, khawatir, rendah diri, tegang, tidak bisa konsentrasi, kesempitan jiwa, ketakutan , kegelisahan, berkeluh kesah, kepanikan, tidur tidak nyenyak, berdosa, terancam, dan kebingungan/linglung. Gejala sosial meliputi mencari bocoran soal, mencari kunci jawaban, menyontek, menyalahkan soalnya sulit, dan menyalahkan gurunya belum pernah mengajarkan materi yang diujikan.
Kecemasan merupakan kondisi psikologis dan bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia pernah mengalami kondisi psikologis ini. Kecemasan sering muncul pada orang yang dianggap normal, meskipun kecemasan merupakan simtom semua psikopathologi terutama neurotik. Kecemasan dan ketakutan biasa merasuki manusia, baik secara individual maupun komunal, sejak mereka memiliki kesadaran, kecuali orang yang dikasihi Allah dan diberi nikmat keimanan.
Kondisi psikologis dalam bentuk kecemasan akan terus meningkat seiring dengan pesatnya kemajuan peradaban material serta jauhnya manusia dari pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Allah swt. Masalah kecemasan atau ketakutan merupakan suatu titik temu, yang menghubungkan semua jenis pertanyaan penting, suatu teka teki dimana solusi memberikan kejelasan terhadap keseluruhan kehidupan mental siswa. Kecemasan merupakan buah kesulitan yang dibayar di muka, sebelum kesulitan itu sendiri terjadi. Kecemasan pada dasarnya bersifat merusak dan menghancurkan. Cara mengusir kecemasan adalah dengan menghalaunya dari pikiran dan menggantinya dengan pikiran spiritual yang positif.
Kecemasan atau ketakutan dapat berkembang dalam intensitas yang begitu besar dan sebagai konsekuensinya dapat menjadi penyebab bagi tindakan pencegahan yang berlebihan.Kecemasan yang disebabkan oleh neurosis kecemasan akibat gelisah (nervous anxiety) dalam menghadapi ujian nasional akan merugikan diri siswa untuk berkonsentrasi dalam belajar. Kata ”gelisah” dan ”cemas” digunakan saling menggantikan, seolah-olah mereka mempunyai arti yang sama. Hal ini tidak dapat dibenarkan.Bagaimanapun juga ada orang-orang yang sering cemas namun tidak gelisah dan selain itu ada orang-orang yang terserang neurotik dengan sejumlah gejala-gejala yang tidak menunjukkan kecenderungan untuk takut.
Kecemasan atau ketakutan yang dialami oleh siswa dalam menghadapi ujian nasional menurut teori Freud dinamakan adalah sebagai kecemasan obyektif (objective anxiety).Ketakutan riil bagi kita terlihat sebagi suatu hal yang sangat rasional dan alami. Hal ini kita sebut sebagai reaksi terhadap persepsi bahaya eksternal, yaitu Ujian Nasional yang dianggap sebagai sesuai yang menakutkan. Kemunculan kecemasan akan sangat tergantung pada seberapa besar pengetahuan dan penguasaan materi Ujian Nasional dikuasai oleh seorang siswa. Pada kesempatan yang lain, pengetahuan sendirilah yang mengakibatkan kecemasan, karena ia memperlihatkan adanya bahya dengan lebih cepat. Jadi siswa akan terlihat ketakutan melihat dirinya tidak siap menghadapi ujian nasional yang akan menjadi salah satu penentu kelulusan siswa dari sekolah.
Pada hakikatnya penguasaan pengetahuan yang telah disiapkan atau dimiliki yang mengakibatkan kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional, karena ia memperlihatkan adanya bahaya jika tidak lulus. Kecemasan atau ketakutan obyektif bersifat rasional dan bermanfaat, karena dengan ini ini akan diketahui sebab dan cara mengatasinya. Di hadapan bahaya yang akan datang, satu-satunya tindakan pertama yang ada dalam pikiran siswa adalah menimbang kemampuan yang akan dikeluarkan dibanding dengan tingkat bahaya yang ada, dan kemudian lari atau bertahan,atau mungkin bahkan untuk menyerang. Hal ini sungguh merupakan prospek akan suatu hasil yang menggembirakan.
Perasaan takut sungguh tidak punya tempat dalam Ujian Nasional, sebab Ujian Nasional pada akhirnya harus dilakukan juga karena program pemerintah dan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan akan lebih baik jika rasa takut tidak dimunculkan. Jika rasa kecemasan atau ketakutan begitu besar pada diri siswa dalam menghadapi Ujian Nasional, maka akan melumpuhkan setiap usaha, bahkan usaha untuk lari dari kenyataan. Suatu reaksi terhadap bahaya (misalnya UN dianggap sebagai bahaya) merupakan kombinasi dari dua hal, yaitu rasa takut dan tindakan bertahan (defensif). Siswa yang ketakutan merasa takut dan akan melarikan diri, namun unsur yang dominan adalah ”melarikan diri” dan bukan ”perasaan takut”.
Kecemasan atau ketakutan akan memberi masukan pada siswa yang lebih baik. Perlunya kesiapan terhadap Ujian Nasional (bahaya) yang memperlihatkan dirinya dalam persepsi yang menakutkan atau mencemaskan. Kesiapan ini sungguh sangat menguntungkan, jika tidak ada kesiapan akan mendatangkan akibat yang buruk. Kesiapan terhadap rasa cemas atau takut terhadap Ujian Nasional sebagai unsur yang menguntungkan, dan perkembangan kecemasan merupakan unsur yang menguntungkan dalam apa yang disebut kecemasan atau rasa takut.
Kecemasan berhubungan dengan kondisi dan mengabaikan obyek, sedangkan ketakutan perhatian diberikan kepada obyek, yaitu berkaitan secara khusus dengan keadaan yang menyebabkan bahaya ketika bahaya muncul tanpa adanya kesiapan terhadap rasa takut menghadapi ujian nasional. Jadi dapat dikatakan bahwa kecemasan merupakan perlindungan terhadap ketakutan menghadapi ujian nasional.
SEPULUH JURUS KESIAPAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
Jurus I : Penguasaan Materi Pembelajaran

Untuk menguasai materi pembelajaran siswa hendaknya sudah menguasai semua materi yang diajarkan oleh guru sesuai dengan standar kompetensi lulusan dalam kurikulum yang berlaku. Siwsa juga sudah menguasai semua materi yang diajarkan oleh guru pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Siswa mesti menggunakan waktu secara efektif dan efisien untuk belajar mata pelajaran yang akan diujikan secara nasional.Yang lebih penting lagi siswa harus disiplin terhadap waktu belajar yang telah direncanakan.
Guru mempunyai peran penting dalam membantu siswa menguasai mata pelajaran. Peran yang harus dilakukan guru antara lain: (1) mengajar dengan baik dan menuntaskan materi pembelajaran; (2) membangun proses pembelajaran yang efektif dan efisien; (3) menyelenggarakan program pengajaran perbaikan bagi siswa yang belum menguasai kompetensi; (4) melnyelenggarakan program pengayaan; (5) melakukan penilaian hasil belajar secara berkesinambungan untuk memanhtau proses,kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas secara obyektif, transparan, dan akuntabel
Konselor/Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah mempunyai peran dalam membantu siswa menghadapi ujian nasional melalui layanan konseling. Peran yang harus dilakukan oleh konselor antara lain : (1) memotivasi siswa dalam belajar ; (2) memberikan kiat cara belajar yang efektif dan efisien; (3) menanamkan rasa percaya diri akan keberhasilan menghadapi ujian nasional;(4) mensugesti optimistic siswa akan keberhasilan menghadapi ujian nasional; (5) menghilangkan rasa cemas dan takut menghadapi ujian nasional; (6) menanamkan disiplin dalam belajar; (7) keterampilan belajar; (8) menghilangkan pesimistis siswa dalam menghadapi ujian nasional; dan sebagainya..
Jurus II : Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Kepercayaan diri pribadi adalah suatu yang ingin dimiliki lebih banyak oleh sebagian besar orang, tetapi itu hanyalah masalah membangkitkannya. Bagaimana kita bisa lebih percaya diri? Psikolog dan ahli terapi setuju bila saja pil kepercayaan diri ditemukan, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih menyenangkan dan mereka segera akan kehilangan pekerjaan. Namun,pil kepercayaan diri masih belum diproduksi. Lalu kemana kita harus berpaling menopang kepercayaan diri kita? Pada dasarnya,kita harus berpaling ke dalam diri kita untuk menopang dan mengembangkan bidang dasar yang memerlukan perhatian. Pada dasarnya, kepercayaan diri adalah kombinasi pikiran dan perasaan yang berarti, saya senang kepada diri sendiri dan berpikir bahwa saya orang yang berguna. Di sekolah, siswa yang percaya diri umumnya merasa positif dan kompeten serta menggunakan dua kualitas ini untuk melakukan kegiatan belajar dengan baik, pada waktunya dan barangkali dengan bersemangat. Menjadi percaya diri mungkin kelihatannya sulit sekali, terutama untuk orang yang pesimistis, tetapi sikap yang dipegang mengenai diri sendiri bisa diperbaiki.
Kunci sukses menghadapi ujian nasional adalah membangun rasa percaya diiri akan keberhasilan dengan cara menghilangkan rasa cemas. Rasa cemas merupakan musuh nomor satu dalam menghadapi ujian nasional yang harus segera dihilangkan. Kunci sukses menghadapi ujian nasional adalah memerangi rasa takut dengan keyakinan dan menghadapi kenyataan. Kita akan menjadi percaya diri, penuh rasa kemenangan, dan keberhasilan. Oleh sebab itu janganlah kuatir tentang apa yang akan dihadapi dalam ujian nasional, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginannya kepada Allah dalam doa dan permohonan agar sukses dalam menghadapi ujian nasional dan dengan ucapan syukur. Siswa di dalam belajar harus meningkatkan rasa percaya diri akan keberhasilan,yang ditunjukkan dengan sikap dan perilaku sebagai berikut.
  1. Mengetahui apa yang anda hasilkan dari belajar
  2. Memahami apa yang anda lakukan untuk dapat sukses dalam Ujian Nasional
  3. Memahami kegiatan anda dalam belajar untuk mencapai sukses belajar.
  4. Menghindari semua perbuatan yang berlebihan sehingga mengabaikan kegiatan belajar.
  5. Memahami semua seni perilaku belajar yang wajar dengan ketat dan penuh kesadaran.
  6. Membuktikan kemampuan anda dengan fakta yang dapat menjelaskan berbagai sudut pandang yang berbeda melalui berbagai jenis ujian.
  7. Berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan tugas belajar.
  8. Merencanakan tujuan dan memelihara komitmen dalam pencapaian tujuan belajar.
  9. Rasa percaya diri akan keberhasilan membantu menciptakan perasaan tenang dan menghilangkan kecemasan dan ketakutan.
  10. Keyakinan akan kemampuan diri sendiri menghilangkan kecemasan dan ketakutan.
  11. Rasa percaya diri akan keberhasilan menjadi kunci sukses dalam menghadapi UN.
  12. Rasa percaya diri akan tercapai, jika mampu menguasai keraguan yang merayapi dirinya akan keberhasilan dalam menghadapi ujian nasional. Keraguan merupakan pengganggu yang membuat kita kehilangan kesempatan memperoleh hal-hal yang baik karena kita ragu-ragu mencoba untuk meraihnya.
  13. Mensugesti diri dengan menyatakan optimistik akan keberhasilan keinginan dan maksudnya dengan nada yang meyakinkan tanpa menunjukkan keraguan dalam menghadapi Ujian Nasional. Misalnya : Saya pasti lulus! Saya pasti befrhasil ! Saya pasti nilainya tinggi!
Jurus III : Meningkatkan Konsentrasi Belajar

Membina kekuatan konsentrasi hamper sama dengan mengembangkan dan menguatkan otot tubuh. Namun, siswa akan mampu meningkatkan konsentrasi tanpa mengeluarkan keringat. Ini lebih merupakan masalah latihan yang dingin, tenang dan sungguh-sungguh. Proses dasar dalam mengembangkan kekuatan konsentrasi adalah dengan melakukan tugas mental yang lebih sulit secara bertahap. Tugas ini harus memerlukan periode konsentrasi yang lebih keras dan lebih lama. Sementara menjalankannya, berilah diri sendiri hadiah untuk peningkatan pada rentang konsentrasi.
Untuk meningkatkan konsentrasi belajar dalam menghadapi Ujian Nasional, siswa dituntut mampu menunjukkan perilaku sebagai berikut.
  1. Menyiapkan daftar tugas konsentrasi yang biasa dihadapi dalam kegiatan belajar dan dalam menghadapi Ujian Nasional.
  2. Mengikuti rangkaian kegiatan secara perlahan sehingga dapat menyerap setiap langkah secara mental.
  3. Mengulangi mengucapkan setiap langkah keras-keras untuk membantu menanamkan informasi tersebut ke dalam ingatan.
  4. Mengajukan pertanyaan untuk menjelaskan setiap yang dipelajari atau keraguan.
  5. Pada akhir rangkaian kegiatan, mencoba mengulangi seluruh petunjuk.Perbaiki kesalahan.
  6. Sewaktu menjalankan petunjuk, ulangi langkah-langkah tersebut sementara anda berjalan untuk lebih menanamkannya di dalam ingatan anda, dan ingatan yang kuat diperlukan.
Jurus IV : Mengembangkan Disiplin Diri Dalam Belajar

Disiplin diri sangat penting untuk berhasil dalam belajar menghadapi ujian nasional. Disiplin diri memungkinkan siswa memperoleh kepuasan dan mendapatkan pujian yang sepantasnya dan mungkin menaikan prestasi belajar. Selain kemajuan belajar, disiplin diri dapat juga meningkatkan kehidupan pribadi lebih sehat dan berkembang. Pada hakikatnya, disiplin diri merupakan atribusi penting yang dapat memajukan banyak aspek kehidupan siswa. Di sekolah, disiplin diri berarti siswa maju dengan pesat, belajar dengan lebih efektif dan hasil bisa diandalkan. Menjadi disiplin diri adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sebagian besar siswa. Namun disiplin diri kerap merupakan suatu kualitas yang sukar dicapai. Mengapa? Karena,siswa mungkin harus belajar sejumlah perilaku yang baru dan sulit, seperti mengalahkan kebiasaan menunda. Untuk lebih disiplin diri siswa harus belajar cara untuk menjadi kurang perfeksionis atau belajar cara mengatasi ketakutan yang besar akan kegagalan. Ini merupakan kegiatan belajar yang menuntut kerja keras.
Banyak cara yang dapat dilakukan siswa untuk mengembangkan disiplin dalam belajar, diantaranya adalah sebagai berikut.
  1. Menetapkan tujuan belajar.
  2. Memulai belajar.
  3. Mendefinisikan belajar.
  4. Mengatur belajar dengan membuat perencanaan yang baik.
  5. Membuat batas waktu belajar yang realistik.
  6. Menetapkan ganjaran untuk hasil belajar yang dicapai.
  7. Menghindari penundaan untuk belajar.
  8. Menulis rencana belajar harian setiap hari dan usahakan memulai dengan belajar yang benar-benar penting.
  9. Menaklukan ketakutan akan kegagalan dalam belajar
  10. Berusaha untuk tidak terlalu perfeksionis
  11. Terus belajar meskipun mendapat kritik yang tidak adil
Jurus V : Hidup Teratur Agar Berhasil Dalam Menghadapi Ujian Nasional

Keberhasilan dalam semua bidang kehidupan,termasuk kehidupan dalam belajar, siswa harus bisa hidup teratur. Berhasil dalam belajar dan juga dalam ujian nasional pada dasarnya adalah masalah hidup teratur. Teratur dalam menjalani kegiatan belajar untuk mencapai cita-cita sukses belajar dan sukses dalam ujian nasional. Mulai sekarang siswa tentunya harus menjalani hidup yang teratur,khususnya dalam kegiatan belajar, apalagi dalam waktu dekat akan menghadapi ujian nasional yang merupakan salah satu syarat untuk dapat lulus dari sekolah/madrasah. Menjadi hidup teratur adalah suatu keterampilan yang akan membuat siswa lebih efektif dan efisien dalam belajar dan lebih puas dalam menjalani kehidupan.
Hidup teratur dapat ditempuh dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.
  1. Membuat dan menggunakan rencana harian untuk membuat daftar tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam belajar dan menghadapi UN.
  2. Belajar menurut rencana harian setiap hari.
  3. Mengerjakan tugas-tugas belajar dengan baik dan penuh semangat.
  4. Memberi hadiah kepada diri sendiri untuk setiap pekerjaan yang telah diselesaikan
  5. Menilai keterampilan belajar dan kerja anda.
Jurus VI : Mengelola Waktu Belajar Secara Efektif dan Efisien

Menguasai waktu merupakan salah satu aspek paling penting untuk belajar efektif dan efisien. Siswa harus mengelola tugas-tugas belajar di sekolah dan di rumah, menangani tanggungjawab sebagai pelajar dan juga mengatur waktu santai yang memadai. Siswa harus mengusahakan agar waktu menjangkau semua fungsi dalam hidup, sehingga tujuan hidup dan tujuan belajar dapat diwujudkan. Menyesal sekali, waktu tidak dapat dihasilkan, ditambah, dihentikan, ataupun dibalikkan. Jarum jam terus berputar dengan keteraturan tanpa belas kasihan. Pertanyaan utamanya adalah, bagaimana siswa membuat agar waktulah yang bekerja untuk siswa?
Agar siswa dapat mengelola waktu belajar secara efektif dan efisien, maka ia perlu melakukan beberapa cara seperti berikut.
  1. Belajar menurut rencana harian.
  2. Mencari cara yang memungkinkan anda bisa menggunakan secara produktif waktu yang semula tidak terpakai.
  3. Mulailah melakukan kegiatan belajar yang efektif.
  4. Latihan menempatkan diri anda pada posisi guru yang mengajar dan lihatlah diri anda dari perspektif mereka.
  5. Berbicaralah dengan teman yang lebih pandai dalam belajar dan cobalah strategi yang mereka gunakan untuk meningkatkan produktivitas dalam belajar.
  6. Perbaharui keterampilan belajar anda.
  7. Bersikap antusias terhadap belajar
  8. Belajar dengan sungguh-sungguh
  9. Belajarlah sesuai dengan rencana kegiatan belajar.
  10. Bersikaplah inovatif dalam belajar.
Jurus VII : Meningkatkan Produktivitas Belajar dalam menghadapi Ujian Nasional
Menjadi produktif adalah terpenting dalam hampir semua kegiatan belajar. Produktivitas berarti siswa mengerjakan apa yang diharapkan,dan menyelesaikan pekerjaan dalam belajar. Produktivitas merupakan salah satu unsur utama dalam kepuasan belajar. Dengan belajar keras dan mencapai tujuan yang siswa tetapkan, siswa merasa lebih puas pada penghujung akhir belajar, yaitu lulus dengan hasil yang baik dan memuaskan.
  1. Belajar menurut rencana harian.
  2. Mencari cara yang memungkinkan anda bisa menggunakan secara produktif waktu yang semula tidak terpakai.
  3. Mulailah melakukan kegiatan belajar yang efektif.
  4. Latihan menempatkan diri anda pada posisi guru yang mengajar dan lihatlah diri anda dari perspektif mereka.
  5. Berbicaralah dengan teman yang lebih pandai dalam belajar dan cobalah strategi yang mereka gunakan untuk meningkatkan produktivitas dalam belajar.
  6. Perbaharui keterampilan belajar anda.
  7. Bersikap antusias terhadap belajar.
  8. Belajar dengan sungguh-sungguh.
  9. Belajarlah sesuai dengan rencana kegiatan belajar.
  10. Bersikaplah inovatif dalam belajar.
Jurus VIII : Ketekunan Dalam Belajar
Ketekunan belajar akan menghasilkan kekuatan yang menumbuhkan hasil dalam belajar. Tentuknan pondasi atau landasan, tanamkan pilar yang kuat, kerjakanlah jam demi jam, hari demi hari, dan majulah inci dedmi inci. Dedngan tetap tabah dan tekun akan mencapai keberhasilan. Ketekunan dalam belajar dapat diciptakan dengan melakukan beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut.
  1. Kunci sukses dalam belajar adalah bertahan dan ketekunan,karena dengan demikian akan meningkatkan kekuatan dan kemampuan.
  2. Kunci sukses dalam belajar adalah tabah,tekun sebab akan memperkuat dan memperjelas suatu cita-cita yang dinamis.
  3. Kunci sukses dalam belajar adalah berani menanggung apapun untuk senantiasa bertekun dan tabah.
  4. Ketekunan dan ketabahan akan membawa kedaimaian dalm hidup.
  5. Daya tahan merupakan kekuatan yang menumbuhkan hasil yang gemilang.
  6. Upaya yang keras bermula dari ketekunan dan kerajinan.
  7. Ketekunan menguatakan yang lemah, dan memberikan peluang menuju peningkatan dalam mancapai tujuan belajar.
  8. Orang yang tekun akan memperkuat dirinya untuk mencapai suatu tujuan yang berharga (sukses belajar) dan tidak akan dikuasai oleh kecemasan dan frustasi
  9. Orang yang telah mengalami kegagalan sesungguhnya telah memperoleh banyak pengalaman dan pelajaran yang amat baik dan berharga dalam kehidupan.

Jurus IX : Motivasi Diri untuk Berhasil Ujian Nasional
Kunci sukses adalah keyakinan dan motivasi diri untuk berhasil dalam ujian nasional. Seseorang akan berhasil bila ia memotivasi dirinya untuk sukses. Siswa yang baik secara emosional akan jauh lebih mampu memotivasi dirinya dibandingkan dengan siswa yang dipenuhi keraguan, kecemasan dan emosi yang belum dewasa. Untuk menumbuhkan motivasi diri untuk berhasil dalam Ujian Nasional, siswa harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.
  1. Siswa yang mempunyai motivasi diri yang baik adalah siswa yang mempunyai cita-cita, dinamis dan tekun mencurahkan diri dan kemampuannya untuk mencapai cita-cita dalam belajar.
  2. Mengembangkan dan membuat rencana yang mempunyai jangkauan ke depan sehingga dengan demikian akan mempunyai motivasi untuk mencapainya.
  3. Menumbuhkan kegairahan belajar yang dinamis.
  4. Mencurahkan seluruh jiwa raganya pada belajar itu akan keluar sebagai pemenang,yaitu sukses dalam menghadapi ujian nasional.
  5. Menghidupkan keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita sukses dalam ujian nasional.
  6. Tetap menatap suatu cita-cita untuk mencapai sukses dfalam ujian nasional.
  7. Mengembangkan dan menumbuhkan suasana persaingan yang sehat dan rasa bangga akan dirinya sendiri.
  8. Rendahnya motivasi belajar terlihat adanya siswa yang gagal belajar, drop-out.
  9. Siswa akan berhasil dalam belajar jika ia memotivasi dirinya untuk berhasil.
  10. Bila siswa percaya dan yakin bahwa upaya belajarnya membawa manfaat , ini berarti mempunyai motivasi yang tepat.
  11. Keyakinanlah dan bukan keuntungan yang memotivasi diri.
  12. Siswa harus dimotivasi oleh keyakinan diri mereka untuk berhasil dalam belajar dan mencapai cita-cita.
  13. Motivasi muncul jika siswa memiliki rencana yang dinamis dan nyata tentang apa yang hendak dicapainya (misal lulus Ujian Nasional ).
  14. Oleh karena itu kunci sukses dalam Ujian Nasional adalah mengembangkan dan membuat rencana jangkauan ke depan,yaitu lulus Ujian Nasional dengan jujur sehingga akan memotivasi diri sendiri.
  15. Kunci sukses dalam Ujian Nasional adalah kegairahan belajar yang dinamis. Kegairahan belajar akan dapat memotivasi diri untuk berhasil dalam Ujian Nasional.
  16. Siswa yang mencurahkan seluruh jiwa raganya pada belajar akan keluar sebagai pemenang sebagai siswa yang sukses dalam Ujian Nasional.
  17. Motivasi yang tepat akan membuahkan hasil yang memuaskan dan menggembirakan,yaitu lulus Ujian Nasional dan lulus dari sekolah.
  18. Motivasi akan tumbuh dalam dirinya jika siswa mempercayai orang lain; mampu untuk menilai diri sendiri, mampu memperoleh rasa aman, serta mampu untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri.
Jurus X : Bersikap Positif Terhadap Ujian Nasional

Sikap positif terhadap ujian nasional sangat diperlukan bagi siswa dalam menghadapi ujian nasional, sehingga siswa akan dapat bertindak sesuai dengan obyek sikap atau bersedia untuk bereaksi positif terhadap obyek sikap yaitu ujian nasional. Kunci sukses dalam menghadapi ujian nasional adalah bersikap yang tepat, yaitu bersikap positif. Sikap siswa menentukan sukses yang akan dicapai. Buah sukses, keasyikan dan kesenangan dalam mengukir keberhasilan, damai,meningkatkan keinginan dan semangat berkompetisi dan lain-lain tidak akan bisa capai bila pandangan tentang keinginannya, tentang hasil dan keberhasilan siswa kurang tepat. Sepatutnya ada kepuasan batin karena apa yang siswa lakukan tepat dan benar. Sikap positif menentukan tindakan yang akan dilakukan yaitu giat belajar, semangat tinggi, percaya diri untuk berhasil menghadapi ujian nasional.
Sikap positif memiliki peranan yang sangat penting dalam menghadapi Ujian Nasional. Untuk menumbuhkan sikap positif, siswa hendaknya memiliki pandangan sebagai berikut.
  1. Ujian Nasional adalah penting untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan secara nasional.
  2. Ujian Nasional adalah Penilaian eksternal, dilakukan oleh lembaga mandiri untuk menilai pencapaian hasil pembelajaran dengan menggunakan standar tertentu, untuk memperoleh pengakuan dan pertanggungjawaban secara lebih luas.
  3. Ujian Nasional adalah suatu upaya assessment of learning, yang dilakukan oleh evaluator eksternal guna pengendalian mutu secara nasional dan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
  4. Ujian Nasional penting untuk digunakan sebagai alat pertanggungjawaban sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan kepada orang tua dan masyarakat.
  5. Bagi peserta didik yang belum mencapai standar kompetensi yang ditetapkan sedbagai kriteria kelulusan, maka harus termotivasi untuk belajar lebih giat, bukan malah berbuat curang dan putus asa.
  6. Ujian Nasional berfungsi sebagai upaya untuk menilai tentang materi yang telah dikuasai peserta didik setelah belajar di sekolah.
  7. Ujian Nasional harus dihadapi secara wajar seperti halnya menghadapi ujian sekolah/madrasah,dan ujian yang dilakukan oleh guru di sekolah.
  8. Ujian Nasional sebagai quality control yang artinya setiap lulusan mendapat jaminan sudah mencapai standar nasional;
  9. Ujian Nasional sebagai bekal bagi lulusan menurut standar yang telah ditetapkan;
  10. Ujian Nasional alat untuk memotivasi semangat belajar mengajar peserta didik dan guru agar bekerja lebih serius; dan
  11. Ujian Nasional sebagai alat untuk menyeimbangkan antara pressure dan support.
  12. Dengan Ujian Nasional,maka keberhasilan guru mengajar maupun murid belajar dapat dinilai oleh pihak ketiga yang lebih obyektif dan hasilnya dapat dibandingkan dengan guru dan murid di tempat lain, atau dibandingkan dengan prestasinya sendiri di masa lampau.
  13. Peserta didik yang tidak lulus karena belum optimal belajar, harus berupaya lebih giat lagi agar dapat lulus pada kesempatan berikutnya.
    1. Sekolah/madrasah,dinas pendidikan dan kemenag tingkat kabupaten/kota,dinas pendidikan dan kanwil kemenag tingkat provinsi, dan tingkat kementerian pendidikan, dan kemneterian agama harus melakukan evaluasi dan analisis,
    2. kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada sekolah/madrasah dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan yang menjadi tanggungjawabnya.
  1. Upaya perbaikan bagi peserta didik yang belum lulus harus dilakukan melalui:
    1. kegiatan konseling oleh konselor, dan
    2. kegiatan pengajaran perbaikan oleh guru mata pelajaran sesuai dengan tingkat dan karakteristik masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik.
Semoga dengan tulisan ini akan dapat membantu siswa dalam menghadapi ujian nasional dengan sukses,jujur,dan akuntabel. Banyak orang ingin meraih sukses, tetapi tidak semua mencapaunya, seakan-akan sukses tersebut adalah sesuatu yang jinak-jinak memrpati, pandai berkelit, atau licin bagaikan belut. Oleh karena itu jika siswa ingin sukses dalam menghadapi ujian nasional, harus banyak upaya yang dipilih dan dilakukan dengan cermat, buat rencana yang matang, hilangkan rasa cemas dan takut menghadapi ujian nasional, kuasi materi pembelajaran, meningkatkan rasa percaya diri terhadap keberhasilan, meningkatkan konsentrasi belajar, mengembangkan disiplin, hidup teratur, mengelola waktu belajar secara efektif dan efisien,, meningkatkan produktivitas belajar, tekun dalam belajar,, tingkatkan motivasi diri untuk berhasil, dan bersikap positif terhadap ujian nasional.
Selamat menghadapi ujian nasional dan semoga sukses,jujur,dan akuntabel.

Text Widget

Copyright © Jejak Senja | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com